Pemasangan kanal WiFi tidak minta izin kepada hak milik tanah apalagi terlalu rendah di tanam kan

banner 468x60

 

Muara-enim.zonanusantara.my.id

Sebuah proyek pemasangan kanal WiFi tengah berlangsung. Di desa karang Endah selatan Meski tujuannya untuk kemajuan dan konektivitas, dampaknya kini justru menjadi momok bagi warga yang tanah perkebunannya dilintasi jalur kabel tersebut.

 

“Lihat ini, Pak,” ujar seorang warga sambil menunjuk ke tanah yang baru saja digali. “Kabel dan pipa ini ditanam tidak terlalu dalam. Kalau kami mencangkul atau membajak tanah untuk berkebun, bagaimana jadinya? Takut sekali rasanya kalau sampai tersenggol atau putus.”

 

Suara pro dan kontra mulai bergema. Keresahan masyarakat semakin memuncak. Bukan hanya soal gangguan saat bekerja, tapi juga rasa was-was akan keselamatan. Mereka takut, alat pertanian yang mereka gunakan setiap hari justru bisa merusak instalasi tersebut, atau malah membahayakan diri mereka sendiri.

 

Para perwakilan warga mencoba mendatangi petugas lapangan. Mereka menyampaikan aspirasi dengan nada yang sopan namun tegas.

 

“Kami tidak menolak pembangunan ini. Kami tahu ini untuk kemajuan desa,” kata salah satu tokoh masyarakat. “Tapi kami mohon kepada pihak kontraktor, tolong pasang kabelnya jangan terlalu surut atau dangkal. Tanamlah lebih dalam agar aman. Kami ingin berkebun dengan tenang, tanpa rasa takut setiap kali cangkul menancap ke tanah.”

 

Permintaan itu terdengar logis. Bagi warga, kebun adalah sumber kehidupan. Mereka tidak bisa bekerja dengan hati-hati berlebihan layaknya berjalan di atas telur, takut salah langkah menyentuh instalasi di bawah tanah.

 

Namun, jawaban yang mereka terima hanyalah janji untuk diteruskan ke atasan. Sampai hari ini, belum ada kepastian atau tindakan nyata yang mengubah cara pemasangan tersebut.

 

Mendengar keresahan yang meluas, awak media turun ke lokasi untuk mencari kebenaran dan mencoba menjadi jembatan informasi. Tujuan mereka jelas: ingin mengkonfirmasi keluhan warga dan menanyakan solusi dari pihak penyedia jasa atau kontraktor.

 

Namun, upaya itu menemui jalan buntu.

 

Beberapa kali panggilan telepon dilakukan, pesan dikirimkan, namun sambungan dari pihak kontraktor belum bisa terhubung. Pihak pengelola proyek seolah hilang ditelan bumi, meninggalkan pertanyaan-pertanyaan besar yang menggantung di udara.

 

Warga semakin resah. Ketidakhadiran pihak proyek untuk berdialog justru memicu spekulasi dan memperkeruh suasana. Mereka merasa suaranya tidak didengar, dan keselamatan kerja mereka di kebun terabaikan.

 

Sore itu, langit mulai berwarna jingga. Kereta api melintas dengan suara gemuruh yang keras, seolah mengiringi kegelisahan yang ada di hati warga. Di samping rel itu, tumpukan tanah bekas galian masih terlihat, dan kabel-kabel yang terpasang pun masih berada pada kedalaman yang membuat cemas.

 

Masyarakat kini hanya bisa menunggu. Menunggu kabar baik, menunggu kepastian, dan menunggu janji akan pemasangan yang lebih aman. Sementara itu, para jurnalis pun masih berusaha menghubungi pihak terkait, berharap segera ada jawaban yang bisa meredakan ketegangan ini.

 

Sampai kapan? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, di antara harapan akan kemajuan teknologi, ada hak warga untuk bekerja dengan aman dan tenang di tanah mereka sendiri.

 

 

Red

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *